Kota
Depok --- Sejak 2012, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)
terus memperbaiki mekanisme penyaluran Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
dan bantuan siswa miskin (BSM). Perbaikan tersebut salah satu upaya
untuk memangkas angka putus sekolah.
Dari data Kemdikbud, saat ini tercatat sebanyak
delapan juta anak penerima BSM, dengan total alokasi anggaran Rp4
triliun, dari siswa SD hingga SMA/SMK. Meski demikian, masih ada
anak-anak di SD yang drop out, atau sudah lulus SD tapi tidak
melanjutkan ke SMP, hingga SMA. “Apa yang sekarang kita lakukan, belum
cukup nampaknya dengan menyiapkan BOS dan BSM,” kata Mendikbud pada
pembukaan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2013, di Bojongsari,
Depok, Jawa Barat, Senin (11/02).
Ke depan, Kemdikbud akan pastikan terintegrasinya
data penerima BSM dari SD, SMP, dan SMA. Siswa penerima BSM yang telah
lulus SD tidak perlu khawatir lagi tentang biaya sekolahnya di SMP dan
SMA. Bahkan, jika siswa tersebut mumpuni secara akademik, maka otomatis
di perguruan tinggi juga bisa tetap melanjutkan pendidikannya.
Untuk Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK),
Mendikbud mengatakan, pemerintah telah membangun autis center di lima
lokasi. Pembangunan ini akan terus dilakukan hingga semua daerah
memiliki fasilitas tersebut. Demi mewujudkan harapan tersebut,
pemerintah pusat menggandeng pemerintah daerah untuk menyiapkan
lahannya. “Syaratnya sederhana, siapkan tanah yang bersertifikat. Kita
berikan dukungan,” kata Menteri Nuh.
Dan untuk pendidikan tinggi, pembangunan perguruan
tinggi di pelosok-pelosok negeri terus dilakukan. Baik pembangunan
universitas, akademi komunitas, maupun institut. “Kita bangun PTN yang
ada di pelosok-pelosok, untuk memastikan negara hadir disana,” katanya.
(AR)
sumber: http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/1040